{October 19, 2011} Jadi Ibu Itu…

on Sunday, 06 June 2010 at 22:07

Jadi ibu itu harus sabar (patience-full :p)

Bukan berarti orang yang tidak sabar tidak bisa menjadi ibu lho…. Tapi mengambil peran sebagai ibu mengajarkan kita kesabaran yang lebih. Menghadapi anak saat bayi, sampai anak tsb dewasa. Saat belum bisa apa-apa, sampai ‘merasa’ bisa segalanya. Kadang menjadi sabar begitu mudahnya, tapi bisa menjadi begitu sulitnya. Jadi maklumlah mengapa naturally wanita menjadi cerewet apalagi setelah menjadi ibu :) It’s better to be chatty and sane, then to be silent and insane…

Jadi ibu itu harus tahan sakit (pain-proof :p)

Bukan hanya sakit fisik yang dibicarakan. Karena hal itu pasti terjadi di setiap tahap perkembangan seorang ibu. Juga sakit yang tidak kelihatan, yang tidak ditemukan obatnya. Sakit yang penyebabnya tidak jelas, perginya juga tidak jelas kemana. Penyakit yang dimiliki hampir setiap wanita, tapi tidak semua wanita bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Tapi kebanyakan wanita, bisa melewati hidup dengan tetap memiliki penyakit ini, dan bisa membesarkan anak-anaknya dengan baik :) Tahu dong sakit apaaaa….

Jadi ibu itu harus kuat (strong-full :p atau full-strength??)

Bayi tidak akan selamanya bayi. Dan beratnya akan terus bertambah, seperti juga beratnya beban hidup. Seorang wanita akan ditantang untuk dapat mengatasi bertambahnya beban ini, terkadang dalam waktu yang bersamaan. Dan untuk sebagian wanita, akan ditantang untuk dapat menghadapinya sendiri. Orang-orang di sekelilingnya akan selalu ada, tapi tidak akan selalu jadi yang membantunya. Kekuatan itu harus datang dari dalam diri.

Jadi ibu itu harus pandai menyembunyikan perasaan

Bukan berarti terus berbohong atau berpura-pura. Tapi tahu kapan dan dimana harus bersikap, bagaimana harus bersikap, dan menempatkan diri sesuai peran. Tidak selalu harus serius, tapi juga tidak terus-terusan bercanda. Anak akan mencontoh sikap dan perilaku orang yang paling dekat dengannya, dan seorang ibu memang menjadi tauladan yang terdekat dengan anak. Cerminan masa depan, yang seharusnya diberikan contoh yang baik dari awal kehidupannya.

Jadi ibu itu harus pintar

Mungkin kata yang lebih tepat adalah cerdas. Apapun status dan perannya dalam society, kecerdasan diperlukan dalam setiap tindak tanduk seorang ibu. Bagaimana ia dapat mengelola sebuah rumah tangga yang anggotanya minimal 3 orang (ayah, ibu dan anak) dengan sifat dan kepribadian yang berbeda-beda, memahami keinginan setiap individu dan menjadikan rumah sebagai tempat yang nyaman (a house as a home). Tingkat pendidikan tidak mutlak menjadikan seseorang cerdas, dan karir yang tinggi tidak berarti rumah tangganya boleh untuk ditinggalkan.

Jadi ibu itu harus rela berkorban

Apa yang dikorbankan? Banyak. Mungkin hal-hal sepele, mungkin tidak terlalu diperhatikan, mungkin tidak dianggap penting. Tapi pengorbanan seorang ibu, jauh lebih luas daripada sekedar pemaknaan yang ada saat ini. Memang, setiap orang juga akan berkorban, tidak hanya si ibu. Namun naturally, seorang wanita yang menjadi ibu akan memberikan lebih banyak dari yang ia dapatkan. Akan mengorbankan jauh lebih besar dari yang diminta. Akan menjadi apa yang ia bisa, demi kebahagiaan orang-orang yang dicintai dan mencintainya, terkadang lebih dari kemampuannya.

Jadi seorang ibu itu harus jadi superwoman

Tentu saja bukan superwoman yang pakai baju ketat, bisa terbang dan nonjok laki-laki (walaupun harus diakui, cukup menggiurkan juga hehe…). Tapi ada kalanya keadaan meminta seorang ibu untuk menjadi serba bisa dalam segala hal. Tanpa sekolah, tanpa kursus dan tanpa kuliah, harus bisa jadi tukang listrik, tukang AC, tukang ledeng, reparasi elektronik dari DVD player sampai mesin cuci, pekerja bangunan yang ahli bongkar pasang lemari dan tambal dinding atau genteng bocor, bahkan pembuat mainan handmade dari kayu ataupun kain. Melangkah sedikit keluar rumah, juga terampil menjadi tukang ojek atau supir pribadi anak-anak pulang pergi sekolah, plus montir kalau kendaraan-kendaraan tersebut bermasalah di tengah jalan. Sepertinya belum ketemu SMK yang bisa mengajarkan semua hal itu sekaligus dalam 3 tahun pendidikan…

Jadi ibu itu harusnya adalah berkah bagi setiap wanita….

Karena sadar atau tidak, tidak semua wanita mendapatkan kesempatan untuk menjadi ibu. Menjadi ibu mungkin melelahkan, mungkin menjadi beban (baca: tanggung jawab), mungkin tidak mudah bagi sebagian orang, akan tetapi hal itu tidak menjadikan berkah menjadi seorang ibu berkurang. Seorang ibu, dari awal perannya sudah membantu penciptaan manusia, dengan menjaganya dalam kandungan. Menjaganya tetap hidup dengan menyusuinya (tanpa memperdulikan bentuk badan yang menggendut!), dan mendampinginya terus dalam menjalani kehidupan hingga seorang manusia (baca: anak) dapat berdiri sendiri dan mandiri. Dan bila ada yang merasa tidak dihargai sebagai seorang ibu di dunia, percayalah bahwa keikhlasan menjalani peran ini akan lebih dihargai nantinya….

*wishfully this can lift up the spirit or being a mommy or mommy-to-be, for everybody including me- that a mommy needed more to this world than a mommy needs the world*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s