{November 1, 2011} Barang Haram yang Bernama Komoditas Pertanian Impor

eberapa waktu terakhir ini media diramaikan dengan berita mengenai “Impor Komoditas Pertanian” , sekilas tidak ada yang aneh dengan berita tersebut.. Namun, jika kita baca berita nya lebih lanjut lagi, serta merta kening menjadi berkerut ketika melihat APA SAJA yang diimpor, sebutkan saja satu persatu, dari beras, jagung, kedelai, gandum, daging, kentang, bawang merah, sayur mayur, buah-buahan, dan bahkan singkong.. Singkong? ya.. singkong.. sehingga timbul pemikiran.. :  ”ini negara ga punya lahan atau apa? sampai semuanya diimpor??”

Dan.. kerutan kening akan lebih dalam lagi ketika mengetahui SIAPA yang mengimpor sekian banyak komoditas pertanian tersebut.. .. eeits.. coba.. yang mengimpor siapa? betuull di ponten 100.. negara kita tercinta INDONESIA yang mengimpor..

Indonesia? impor pertanian? negara yang selama saya pendidikan dasar 12 tahun selalu di info kan oleh guru-guru sebagai negara agraris? yang 2/3 penduduknya sebagai petani? yang tahun 1984 mendapatkan penghargaan dari FAO karena bisa swasembada beras? ck..ck…  darimana impornya? dari China.. dan Vietnam? haah? vietnam? yang disaat kita swasembada itu mereka defisit pertanian? sekarang net exportir? walah?

Tapi, emang apa salahnya impor sih? kita impor kan artinya produksi dalam negeri tidak mencukupi konsumsi dalam negeri? niih.. liat aja tabel (kementan, september 2011) dibawah ini..

Sub Sektor Ekspor (kg) Impor (kg) Volume Neraca (kg)
Tanaman Pangan

46.893.372

1.439.218.303

-1.392.324.931

Hortikultura

32.052.626

186.646.207

-154.593.581

Perkebunan

2.582.586.394

388.576.475

2.194.009.919

Peternakan

67.308.628

108.906.739

-41.598.111

Pertanian

2.728.841.020

2.123.347.724

605.493.296

dari data diatas, volume neraca perdagangan komoditas pertanian masih 605.493.296 kg, tapi lihat dulu lah.. sub sektor lainnya.. semua nya negatif.. artinya, memang impor kita lebih banyak dari ekspor, yang kalau dikaitkan dengan logika rakyat umum seperti saya.. impor lebih banyak, karena kita tidak mampu memenuhi kebutuhan sendiri kan?

Tapi, anehnya.. beberapa waktu yang lalu pula, ada berita bahwa kita sebenarnya surplus beras loh.. trus.. kenapa kita harus impor beras? Bulog itu dasarnya apa? kementerian perdagangan juga maksud nya apa? coba kita lihat fakta-faktanya..

produksi beras pada tahun 2010,  39.881.636.000 kg, jumlah penduduk kita 237.641.300 jiwa dengan tingkat konsumsi rata-rata beras nasional adalah 113 kg/kapita per tahun, maka kebutuhan beras kita26.853.466.900 kgmaka Indonesia sudah surplus beras sebesar 13.028.169.100 Kg.  Nah..nah.. kalau surplus 13 juta ton begini, Artinya, target presiden di RJMN 2010-2014 untuk surplus beras sebesar 10 Juta ton sudah tidak diperlukan lagi kan? aneh sekali…

NAMUN, APAKAH DATA TERSEBUT VALID? Hal ini mengingat bahwa Indonesia masih meng-impor beras dari Thailand, Vietnam, maupun India. Artinya, terjadi ketidak sinkronan data produksi dan konsumsi yang dimiliki oleh masing-masing stake holder pengambil keputusan yang berkaitan dengan kebijakan perberasan nasional.

Menurut saya, perhitungan mengenai data produksi, luas lahan dll itu, masih memiliki beberapa kelemahan..antara lain :

    1. belum dapat dianggap merepresentasikan data perberasan secara nasional. Hal ini disebabkan, asumsi kebutuhan dalam negeri belum termasuk kebutuhan beras diluar kebutuhan per kapita. Misalnya, kebutuhan beras rumah makan, rumah sakit, dan sebagainya. Perhitungan hanya mencakup kebutuhan beras nasional per kapita, dan angka 113 kg/kapita per tahun masih merupakan angka penetapan, sehingga masih perlu di kaji lebih lanjut. Adapun perhitungan jumlah produksi beras nasional, masih menggunakan nilai umum konversi GKG ke beras yaitu sebesar 60%.

 

    1. Perhitungan jumlah produksi beras per provinsi menggunakan sistem sampling. Adapun metode dalam pengambilan jumlah ubinan sawah yang menjadi sampel masih perlu ditelusuri lebih lanjut, dan masih perlu di perbaiki baik metode pengambilan contoh, alat pengambilan sampling maupun jumlah ubinan yang akan diambil contohnya.

 

  1. Data luas lahan pertanian yang dikeluarkan oleh pemerintah, masih harus dikaji ulang mengingat laju konversi lahan pertanian kita telah mencapai 80.000 – 100.000 ha/tahun.Selain itu, banyaknya saluran irigasi pertanian yang sudah rusak/mengalami pendangkalan sehingga tidak dapat berfungsi dengan optimal ; perubahan iklim yang mengakibatkan kekeringan dan gagal panen, serta serangan organisme pengganggu tanaman membuat validitas data tersebut semakin diragukan.

dan itu baru di komoditas beras lo.. belum yang lain.. saya pikir masih banyak ketidaksinkronan data produksi dan konsumsi pertanian sehingga tidak cukup valid untuk menentukan kita surplus atau defisit. Sebenarnya, hal itu sudah dijawab oleh Bapak SBY dengan menempatkan Bapak Bayu Khrisnamurti sebagai wamendag, dan Rusman Heryawan mantan kepala BPS sebagai Wamentan yang baru.

Harapannya adalah, agar kedepannya nya masalah data tidak sinkron dan sejenisnya tidak terjadi. Harapannya adalah, tidak ada dalih dari menteri terkait mengenai “menteri ini tidak koordinasi”.. Harapannya adalah tidak ada lagi kejadian demo petani kentang, bawang merah dan sebagainya..

–sebagai gambaran, demo besar-besaran petani kentang itu salah satu penyebabnya adalah data yang tidak sinkron, kelalaian dalam melakukan peramalan masa panen dan tidak adanya koordinasi kementerian terkait. bagaimana bisa.. Ketika musim panen kentang tiba, kita justru impor kentang? kentang konsumsi? dan gilanya.. kentang itu dijual di Sentra produksi kentang dengan harga yang jauh lebih murah? apa maksudnya itu? Impor lah kentang (jika perlu) ketika masih masa tanam, ketika belum panen.., dan jual di pasar induk yang jauh dari sentra produksi, sehingga tidak merusak pasar kentang dalam negeri.. Oleh sebab itu, wahai kementerian terkait.. perbaiki data.., dan koordinasi lah.. sama-sama di jakarta kan? apa susahnya?–

dan terahir, saya berpikir bahwa rakyat itu butuh kejelasan.. akui saja lah kalau memang tidak cukup, akui saja lah kalau memang defisit jadi memang sewajarnya kalau memang harus impor, dan tentunya sambil menjalankan kebijakan untuk mencapai pembangunan pertanian yang diinginkan, dengan mengurangi sedikit-demi sedikit impor pertanian, hingga ahirnya kita lepas dari ketergantungan impor dari negara lain..

 

diambil dari blog lama saya

http://celotehanadara.wordpress.com/2011/11/01/barang-haram-yang-bernama-komoditas-pertanian-impor/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s