Ketika Idealisme dikalahkan Tuntutan..

Wednesday, 19 October 2011 at 03:14

Sebagai seorang ibu, saya ingin sesuatu berjalan sebagaimana mestinya.. Natural saja. hal yang paling dihindari adalah memaksakan kehendak saya kepada anak dan mengakibatkan anak saya tidak nyaman. beberapa kali saya ‘mencibir’ orang tua-orang tua yang saya lihat (dari kacamata saya) seperti memaksakan kehendaknya yang bertujuan untuk “mempersiapkan anak” di masa mendatang dengan memberikan pelajaran-pelajaran tambahan (baca :les) dari sejak TK. Seperti, baca, berhitung, bahasa inggris, komputer, dll. Padahal, saya paham betul bahwa kesuksesan, dan kebahagiaan anak dimasa mendatang tidak dilihat dari “pada umur berapa anak itu sudah bisa membaca” dan sebagainya.

Berpatokan pada hal itu lah, saya itu paling anti memberikan anak les2x yang menurut saya “belum sesuai umurnya” itu. saya lebih senang memfasilitasi anak dengan kegiatan-kegiatan yang berupa hobi dan keterampilan dan mengasah minat serta, seperti berenang, bela diri, menggambar.  namun apa daya, hal itu seakan runtuh ketika saya dihadapkan kepada “tuntutan jaman” dimana ketika akan masuk SD anak itu “diwajibkan” sudah bisa baca, atau dengan kata lain, bisa membaca dan berhitung merupakan salah satu syarat masuk SD berapapun umur nya. dan hal ini lah yang membuat idealisme saya runtuh.. Saya pun “terpaksa” memberikan kegiatan tambahan membaca, menulis, dan berhitung untuk memenuhi tuntutan pendidikan dasar setelah TK.

Hal yang menurut saya, sangat ironis.. bahwa dunia pendidikan dasar kita ternyata mengabaikan aspek psikologis anak dan kesiapan anak untuk jenjang pendidikan setelah TK. bagaimana bisa pihak SD seakan menutup mata, bahwa pendidikan dasar merupakan fondasi dari seluruh rangkaian perjalana kehidupan  seorang anak manusia? saya pribadi lebih memilih dan menginkan anak saya siap secara mental untuk melanjutkan ke pendidikan dasar. saya lebih senang apabila ketika selepas TK anak saya sudah bisa memakai sepatu yang bertali, mengembalikan barang ke tempat semula, menghormati yang lebih tua, paham budi pekerti, sayang kepada sesama.. yang menurut saya (lagi-lagi) harusnya di perkenalkan sejak TK.

Tentunya kita tidak ingin kita membesarkan generasi yang cerdas, pintar tapi tidak berbudi, dan secara mental belum siap untuk menjadi pemimpin bukan? Jangan lah kita terjebak pada “result oriented” bukan “process oriented”? Karena anak-anak bukanlah benda pabrikan yang bisa di cetak dengan komposisi ramuan-ramuan kimia untuk mendapatkan hasil baik. anak merupakan “mesin hidup” dengan “prosesor” terhebat dan sempurna yang mampu “menyerap, mengolah, dan menghasilkan segala sesuatu” yang memiliki “otak” dan “jiwa” .. Hal yang membedakan dengan mesin-mesin komputer.

 *diambil dari note akun saya   jejaring sosial yang bernama facebook

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s