Ujian Nasional, Kenapa menjadi Polemik dan Momok yang Mengerikan?

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Fanny Wijaya (17), siswi kelas III SMP PGRI Depok, ditemukan tewas gantung diri di rumahnya di Depok, Sabtu (18/5/2013) sore. Diduga remaja itu nekat mengakhiri hidupnya karena takut tidak lulus Ujian Nasional (UN).

Image

Maraknya pemberitaan tentang pelaksanaan UN yang ada di media, dan (perasaan) isinya pemberitaan negatiiiif semua.. Dari yang bunuh diri karena takut atau ga lulus, marah2x berbuat anarkis di sekolah karena ga lulus, adanya mencontek “berjamaah” yang (konon) “dikordinasi” oleh pihak sekolah, dan yang miris.. guru-guru yang di black list karena mendukung UN jujur. Pada akhirnya, muncul wacana untuk meniadakan UN saja, karena dinilai lebih banyak mudharat daripada manfaat, membuat stress anak, dan dianggap tidak fair karena  menjadikan ujian beberapa hari sebagai tolak ukur kelulusan pda suatu jenjang pendidikan. Sebenarnya, bagaimana sih “hukum” dari pelaksanaan UN itu? Apakah itu menjadi sesuatu yang wajib, dan inkrah? Atau bagaimana? Mengapa seakan-akan pemerintah seperti “memaksakan” dilaksanakanya UN? Apa urgensi dilaksanakannya UN?

Sebenarnya, pelaksanaan UN itu sendiri secara spesifik tidak diatur didalam UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Pengaturan hanyalah pada Pasal 57 dan Pasal 59 mengenai evaluasi:

Pasal 57

(1) Evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

(2) Evaluasi dilakukan terhadap peserta didik, lembaga, dan program pendidikan pada jalur formal dan nonformal untuk semua jenjang, satuan, dan jenis pendidikan.

Pasal 59

(1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah melakukan evaluasi terhadap pengelola, satuan, jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.

(2) Masyarakat dan/atau organisasi profesi dapat membentuk lembaga yang mandiri untuk melakukan evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58.

(3) Ketentuan mengenai evaluasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Artinya adalah, dalam rangka pengendalian mutu pendidikan, maka dilakukan evaluasi pada setiap peserta didik lembaga, dan program pendidikan. Apakah mekanisme evaluasi tersebut HANYA berupa Ujian Nasional? Jika melihat amanat pasal diatas tentu saja tidak. Lalu bagaimana pengaturan mengenai evaluasi terhadap peserta didik?

Pengaturan mengenai evaluasi belajar terhadap peserta didik diturunkan didalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Bagian Ketiga mengenai Penilaian Hasil Belajar oleh Satuan Pendidikan. Tepat nya pada Pasal 72. Dalam Pasal 72 tersebut dipaparkan dengan jelas bahwa:

  1. Peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah:
  • menyelesaikan seluruh program pembelajaran;
  • memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan ;
  • lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; dan
  • lulus Ujian Nasional

Mekanisme evaluasi terhadap peserta didik tersebut lebih rigid dijabarkan kedalam Peraturan Menteri Pendidikan, yang pada pelaksanaan evaluasi tahun 2013 ini dituangkan kedalam Peraturan Menteri Pendidikan No 3 Tahun 2013 Tentang Kriteria Kelulusan Peserta Didik Dari Satuan Pendidikan Dan Penyelenggaraan Ujian Sekolah/Madrasah/Pendidikan Kesetaraan Dan Ujian Nasional, terutatama pada  BAB II mengenai Kriteria Kelulusan Peserta Didik Dari Satuan Pendidikan, yang mana Pasal 2 menyatakan:

Peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan setelah:

  1. menyelesaikan seluruh program pembelajaran;
  2. memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran yang terdiri atas: kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia; kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian; kelompok mata pelajaran estetika; dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan;
  3. lulus Ujian S/M/PK untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; dan
  4. lulus UN.

Sementara Pasal 5 dalam Peraturan Menteri Pendidikan menjabarkan mengenai  kriteria kelulusan peserta didik dari Ujian S/M/PK yang ditetapkan oleh satuan pendidikan berdasarkan :

  1. Gabungan antara nilai Ujian S/M dan rata-rata nilai rapor semester 7 (tujuh) sampai dengan 11 (sebelas) pada SD/MI dan SDLB; semester 1 (satu) sampai dengan 5 (lima) pada SMP/MTs, dan SMPLB; semester 3 (tiga) sampai dengan 5 (lima) pada SMA/MA dan SMALB; semua mata pelajaran yang ditempuh dan yang diujikan secara nasional pada SMP/MTs dan SMA/MA yang menerapkan sistem SKS; semester 1 (satu) sampai dengan 5 (lima) pada SMK;
  2. gabungan antara nilai Ujian PK dan rata-rata nilai derajat kompetensi (NDK) untuk Program Paket A, Program Paket B, Program Paket C, dan Program Paket C Kejuruan; yang terdiri atas 60% bobot dari nilai Ujian S/M/PK dan 40% bobot dari rata-rata nilai rapor/rata-rata nilai derajat kompetensi.

Nah, Jika kita melihat Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri Pendidikan diatas sebenarnya Ujian Nasional HANYA MERUPAKAN SALAH SATU DARI INSTRUMEN PENGUKURAN KELULUSAN PADA SEBUAH JENJANG PENDIDIKAN.. lalu, mengapa seakan-akan UN itu menjadi “sebuah monster” yang mengerikan? Padahal, UN Hanya salah satu dari 3 (tiga) alat ukur?.. Artinya, jika nilai UN seorang peserta didik tidak sesuai harapan, dunia tidak berakhir toh? Masih ada 3 (tiga) alat ukur lainnya?

Saya pribadi mendukung UN sebagai alat ukur kelulusan, namun tidak satu-satunya.. jika boleh membanding-bandinkan..separti zaman saya sekolah dulu, ada EBTA dan EBTANAS.. dan ada komponen-komponen penilaiannya.. tapi itu ga penting, yang penting adalah.. tidak perlu takut sama UN.. jalani saja dengan baik dan jujur

Para gurupun seharusnya tidak perlu melakukan kasak-kusuk mengajarkan anak didiknya menjadi sosok yang curang kan? Kenapa harus takut mengahadapi UN? “senjata” kelulusan kan ga cuma UN? Masih ada 3 (lagi).. Kenapa ga digunakan?

 

Sadarkah kita, sedikit saja kita memberi celah dan ruang kepada anak-anak generasi penerus bangsa artinya kita berkontribusi terhadap perusakan moral dan bangsa? Bagaimana tanggung jawab kita di akhirat nanti?

Sebagai orang tua hendaknya kita mengajarkan bahwa integritas dan kejujuran itu diatas segalanya, dengan menjadi permisif kita sama saja memberi angin dan mendidik anak-anak kita menjadi generasi instan dan tidak tahan banting.. mana yang lebih penting? Proses atau hasil? Anak-anak yang mengalami pengalaman “diberi angin” atau “dikondisikan” untuk menjadi curang, akan menjadi sosok yang berbeda dalam memandang suatu permasalahan di masa yang akan datang. 10-20 tahun lagi, anak-anak tersebut pastinya sudah terjun di masyarakat, menjadi dan/atau berusaha menjadi sesuatu. Akan seperti apa negara kita, jika masyarakatnya, generasi muda nya menjadi sosok yang ingin serba instan dan ga tahan banting? Dan yang lebih parah kita mejadi salah satu kontributornya (amit-amit deh ih)

Kita sebagai orang tua, yang (saya yakinin betul) akan dimintai pertanggungjawaban didepan Allah SWT, bagaimana mendidik dan menjaga amanat yang diberikan-Nya..apa jawaban kita? Jika kita sebagai kontributor rusaknya moral generasi penerus?generasi muda?

Setidaknya satu hal yang saat ini mulai saya lakukan, yang juga saya ingat dari ibu saya, setiap tugas prakarya atau PR ibu saya ga pernah membantu saya..kerjakan sendiri.. hasilnya? Berantakan, alakadarnya, dan ga pernah dipajang di dinding sekolah, ibu saya selalu bilang : “jangan jadi generasi mie instan!!maunya serba cepat dan bagus, kamu juga ga langsung jalan..pake jatuh dulu”, dan itu yang saya terapkan kepada anak saya.. iya memang, hasil karyanya jarang banget dipajang didinding kelas, hasil belepotan, yah..dibanding teman2nya juga kayaknya ga bagus-bagus amat..Tapi, dia mengerjakan sendiri..dan memang rada susah, ketika anak protes membandingkan hasil karyanya dengan temannya : “ norak ah ma, malu.. “ , katanya.. Kalau sudah begitu, bagaimana saya (kita) sebagai orang tua yang bisa memberi pengertian dan penekanan bahwa yang terpenting anak kita mengerjakan sendiri, jujur tidak curang, dan anak-anak harus merasa yakin dan pede..bahwa apapun yang terjadi mereka itu tetap anak kita, jangan sampai anak-anak takut salah sehingga berbuat curang dan tidak jujur. Apapun yang terjadi, kita sebagai orang tua harus selalu mendampingi (ibaratnya dewan penasehat)..

.. Salah, hasil jelek, ga sempurna itu biasa, karena kesempurnaan hanya milik Allah, Tuhan YME .. Orang tua dan anak sama-sama saling belajar dan mendukung satu sama lain

Sekian. xoxoxo

One thought on “Ujian Nasional, Kenapa menjadi Polemik dan Momok yang Mengerikan?

  1. Pingback: Ujian Nasional, Kenapa menjadi Polemik dan Momok yang Mengerikan? | naeimwiwisaenggag

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s